GURU ITU BERNAMA…
January 27th, 2009 by dreamsakura
|
s |
ebuah pelajaran yang tidak akan Ami lupakan. Wanita itu mengajarkan Ami sesuatu yang amat berharga, memberi sebelum Ami meminta, menjawab sebelum Ami menyakannya, menasihati sebelum Ami minta dinasihati. Yah…banyak hal yang harus digali dan digali. Ami harus belajar lagi tentang PERJUANGAN. Begitu bisik hati Ami….
Suatu siang, dalam sebuah ruangan beliau berdiri di hadapan kami, murid-muridnya. Dengan ketegapan, kesigapan, pemahaman dan sistim belajar yang mengesankan. Memandangnya…tak luput bola mata ini berkedip sedikitpun. Gayanya yang rapi, bersih dan parlente. Konsep demi konsep terus dia paparkan, tentang Sosiologi yang amat berkaitan erat dengan perilaku seseorang. Waktu terus berlalu…30 menit jam pertama. Mulailah kata-kata berlian (mengapa ami menggunakan berlian? Karena makin lama makin mahal harganya) itu keluar dari bibirnya. Ketika itu, kami membahas tentang perilaku menyimpang, misalnya remaja yang mengunakan narkoba. Nah…contoh demi contoh kasus terus dikembangkan.
“Narkoba tidak boleh digunakan kecuali untuk medis.” Begitu katanya…beliau mulai bercerita, “ibuk adalah pemakai narkoba. Dokter yang memberi obat tersebut. Karena sakit yang tidak tertahankan. Ginjal dan penyebaran virus pada saraf belakang yang udah mulai menyerang tumit. Dokter kasih ibuk obat itu, karena memang tak tertahankan. Nak…kalian masih muda-muda, manfaatkanlah kesempatan yang ada. Setiap penyakit pasti ada obatnya, namun obat yang paling penting adalah semangat untuk mengalahkannya. Dalam hidup, kita tidak boleh kalah oleh keadaan, ketersediaan, kondisi. Tidak ada yang bisa mengalahkan untuk maju, berpikir dan belajar”
Lama ami termangu, begitu dalam rasanya. Begitu jauh maknanya. Tapi tidak berlebihan karena memang apa adanya. Yah…bayangkan saja, dengan penyakitnya yang cukup serius, ia masih bisa menyelesaikan studi S2, dengan rekor tercepat se jurusan IPS. Cuma satu tahun…hah waktu yang amat singkat dan menakjubkan karena bagi seorang guru yang sibuk, istri bagi suaminya, dan yang terpenting penyakitnya yang sering kumat.
“pernah, ibuk menangis. Tapi bukan berarti ibuk orang yang cengeng. Air mata itu keluar dengan sendirinya. Tidak disengaja.Ibu merasa sekali kita bertekad maka tekad itu harus dipertanggung jawabkan, dan kebahagiaan yang paling bahagia adalah keberhasilan.”
Di waktu yang lain, beliau juga pernah bercerita tentang tugas yang seabrek, kerja sampai pagi, bertemu dengan dosen yang killer. Namun semua bisa ia atasi…tugas itu terselesaikan dengan baik tanpa pernah ia mengaggap itu beban, dan sang dosen ia hadapi dengan strategi yang bak pula, sehingga dosen tersebut mau menandatangani proposalnya. Suatu yang jarang bisa dilakukan oleh mahasiswa kepada si dosen. Begitu katanya…
Yah…di siang yang panas Ami dapat oase kehidupan. Terima kasih guru…